Kendari, KemenP2MI, 27/03/2025, Dalam menyamakan persepsi antara pusat dan daerah dibutuhkan komunikasi yang intens agar saling memahami tugas dan fungsi masing-masing. Arah kebijakan dari pemerintah pusat harus dapat diterjemahkan serta dieksekusi dengan sebaik-baiknya. Itu menunjukkan sebuah sinergitas yang terjaga antara pusat dan daerah
Dalam upaya mensinergikan program dan kebijakan pusat di daerah, baru-baru ini BP3MI Sultra menerima kunjungan Staf Khusus Kementerian P2MI, Bapak Dr (Cand) Kamaludin, S.Pd, ME.
Pertemuan dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Maret 2025 yang bertempat di Ruang rapat BP3MI Sultra. Kegiatan ini merupakan sharing dan diskusi yang juga dirangkaian dengan acara buka puasa bersama.
Kepala BP3MI Sultra La Ode Askar membuka pertemuan dengan sambutan selamat datang kepada bapak Staf Khusus di Kantor BP3MI Sultra serta memperkenalkan beberapa staf. Selanjutnya La Ode mereview beberapa progres dan aktifitas yang telah dilakukan BP3MI Sultra selama beberapa bulan belakangan.
Pada sesi selanjutnya Stafsus KP2MI memulai memaparkan beberapa hal terkakit dengan tugas-tugas KemenP2MI terutama pelayanan kepada Pekerja Migran. Kamaludin menekankan pentingnya bekerja dengan ikhlas dan sukarela dengan hati yang lapang. Stafsus juga menekankan bagaimana memberikan pelayanan yang baik
“bagaimana kita melayani orang dengan baik, bagaimana kita memprioritaskan orang dengan baik, apalagi kita melayani orang yang cari kerja yang membantu keluarganya yang bekerja banting tulang di luar negeri, ini yang selalu diingatkan oleh Pak Menteri di setiap sesi rapat” Ujar Kamaludin
Pelayanan berkaitan dengan Pekerja Migran yang terlayani dengan baik. Akses pelayanan harus dapat menjangkau para calon pekerja migran khususnya di wilayah kepulauan.
“Larena kita tau dan kita sadari bahwasannya PMI itu paling banyak ada di kepulauan. Jangan sampai misalkan ada PMI pulang, tapi tidak terdata dengan kita, dan ini akan menjadi kinerja balai” Lanjut Kamaludin.
Berikutnya Kamaludin mengingatkan bahwa saat ini sedang ada penilaian kinerja seluruh balai
“Saat ini sedang ada klasifikasi balai dengan kinerja rendah, jangan sampai BP3MI Sultra menjadi P4MI, mengingat kasus merah kemarin di Irjen inspektorat. Pegawai BP3MI harus memacu diri agar kinerjanya meningkat bekerja giat “
Sulawesi Tenggara memiliki 2,7 juta penduduk namun hanya sekitar 300-an PMI yang berangkat ke luar negeri. Angka tersebut tidak sinkron dengan jumlah penduduk sebanyak itu.
“ bagaimana kita bisa mengubah mindset masyarakat yang takut bekerja keluar negeri, yang berpikir bahwa bekerja di luar negeri itu hanya sebagai pembantu rumah tangga, mereka tidak mengetahui bahwa ada sektor-sektor lain, ada perawat, manufaktur, ini harus di tindaklanjuti oleh semua kepala balai” Tegas Kamaludin.
Sudah ada instruksi dalam surat edaran yang menyebutkan bahwa setiap daerah level Provinsi, Kabupaten Kota, Kecamatan, Kelurahan dan Desa harus memfasilitasi Pekerja Migran Indonesia.
“ Para kepala balai harus menindaklanjuti ke kepala daerah baik di level provinsi maupun kabupaten, karena itu instruksinya jelas dalam surat edaran itu. Setiap daerah harus memfasilitasi pekerja migran Indonesia, turunan sampai ke tingkat desa “ Lanjut Kamaludin
Stafsus KemenP2MI juga menyinggung mengenai pencanangan Desa Migran Emas serta bagaimana mempromosikan peluang kerja di berbagai ruang publik seperti sekolah dan kampus juga dengan memanfaatkan media sosial
“ Kalau di Dirjen Pemberdayaan ada namanya Desa Migran Emas. Jangan tunggu instruksi baru di laksanakan, supaya menjadi kinerja terbaik BP3MI Sultra. Giatkan sosialisasi di media sosial maupun tatap muka langsung. Bahwa PMI itu bukan hanya sektor rumah tangga ada sektor-sektor lain ada perawat ada manufaktur. dengan anggaran yang kecil bagaimana kita bisa tetap produktif. Datang ke sekolah-sekolah, kampus-kampus melakukan sosialisasi tanpa harus mengeluarkan anggaran” Tegas Kamaludin
Menyinggung terbukannya lowongan kerja secara besar-besaran di berbagai negara, Kamaludin menggugah BP3MI Sultra untuk mempersiapkan diri dengan peluang besar tersebut
“ Kita harus mempersiapkan para CPMI asal Sultra dengan akan di bukanya morotarium, Arab Saudi membutuhkan 150 ribu perawat, jangan sampai morotarium sudah di buka tetapi sultra belum siap. Yang kedua spanyol membutukan sekitar 6 ribu perawat, jadi bagaimana kita mempersiapkan para CPMI kita untuk mempersiapkan kompetensi, kemenkes sudah menginstruksikan untuk menggunakan fasilitas yang ada di kemenkes. Jangan sampai kita punya banyak job order tapi kita tidak bisa manfaatkan. Kita bangun komunikasi dengan pemprov, pemda dan pemkot agar informasinya tersebar” Tutup Kamaludin
Kegiatan pertemuan memberikan banyak informasi baru bagi BP3MI Sultra. Arahan dan petunjuk dari Stafsus KemenP2MI tentunya memberikan motivasi bagi tim BP3MI Sultra untuk lebih menyempurnakan pelayanan guna menyongsong terbukanya kesempatan kerja yang besar bagi Calon Pekerja Migran. (Humas BP3MI Sultra / Ery Wahyuni)
Dalam upaya mensinergikan program dan kebijakan pusat di daerah, baru-baru ini BP3MI Sultra menerima kunjungan Staf Khusus Kementerian P2MI, Bapak Dr (Cand) Kamaludin, S.Pd, ME.
Pertemuan dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Maret 2025 yang bertempat di Ruang rapat BP3MI Sultra. Kegiatan ini merupakan sharing dan diskusi yang juga dirangkaian dengan acara buka puasa bersama.
Kepala BP3MI Sultra La Ode Askar membuka pertemuan dengan sambutan selamat datang kepada bapak Staf Khusus di Kantor BP3MI Sultra serta memperkenalkan beberapa staf. Selanjutnya La Ode mereview beberapa progres dan aktifitas yang telah dilakukan BP3MI Sultra selama beberapa bulan belakangan.
Pada sesi selanjutnya Stafsus KP2MI memulai memaparkan beberapa hal terkakit dengan tugas-tugas KemenP2MI terutama pelayanan kepada Pekerja Migran. Kamaludin menekankan pentingnya bekerja dengan ikhlas dan sukarela dengan hati yang lapang. Stafsus juga menekankan bagaimana memberikan pelayanan yang baik
“bagaimana kita melayani orang dengan baik, bagaimana kita memprioritaskan orang dengan baik, apalagi kita melayani orang yang cari kerja yang membantu keluarganya yang bekerja banting tulang di luar negeri, ini yang selalu diingatkan oleh Pak Menteri di setiap sesi rapat” Ujar Kamaludin
Pelayanan berkaitan dengan Pekerja Migran yang terlayani dengan baik. Akses pelayanan harus dapat menjangkau para calon pekerja migran khususnya di wilayah kepulauan.
“Larena kita tau dan kita sadari bahwasannya PMI itu paling banyak ada di kepulauan. Jangan sampai misalkan ada PMI pulang, tapi tidak terdata dengan kita, dan ini akan menjadi kinerja balai” Lanjut Kamaludin.
Berikutnya Kamaludin mengingatkan bahwa saat ini sedang ada penilaian kinerja seluruh balai
“Saat ini sedang ada klasifikasi balai dengan kinerja rendah, jangan sampai BP3MI Sultra menjadi P4MI, mengingat kasus merah kemarin di Irjen inspektorat. Pegawai BP3MI harus memacu diri agar kinerjanya meningkat bekerja giat “
Sulawesi Tenggara memiliki 2,7 juta penduduk namun hanya sekitar 300-an PMI yang berangkat ke luar negeri. Angka tersebut tidak sinkron dengan jumlah penduduk sebanyak itu.
“ bagaimana kita bisa mengubah mindset masyarakat yang takut bekerja keluar negeri, yang berpikir bahwa bekerja di luar negeri itu hanya sebagai pembantu rumah tangga, mereka tidak mengetahui bahwa ada sektor-sektor lain, ada perawat, manufaktur, ini harus di tindaklanjuti oleh semua kepala balai” Tegas Kamaludin.
Sudah ada instruksi dalam surat edaran yang menyebutkan bahwa setiap daerah level Provinsi, Kabupaten Kota, Kecamatan, Kelurahan dan Desa harus memfasilitasi Pekerja Migran Indonesia.
“ Para kepala balai harus menindaklanjuti ke kepala daerah baik di level provinsi maupun kabupaten, karena itu instruksinya jelas dalam surat edaran itu. Setiap daerah harus memfasilitasi pekerja migran Indonesia, turunan sampai ke tingkat desa “ Lanjut Kamaludin
Stafsus KemenP2MI juga menyinggung mengenai pencanangan Desa Migran Emas serta bagaimana mempromosikan peluang kerja di berbagai ruang publik seperti sekolah dan kampus juga dengan memanfaatkan media sosial
“ Kalau di Dirjen Pemberdayaan ada namanya Desa Migran Emas. Jangan tunggu instruksi baru di laksanakan, supaya menjadi kinerja terbaik BP3MI Sultra. Giatkan sosialisasi di media sosial maupun tatap muka langsung. Bahwa PMI itu bukan hanya sektor rumah tangga ada sektor-sektor lain ada perawat ada manufaktur. dengan anggaran yang kecil bagaimana kita bisa tetap produktif. Datang ke sekolah-sekolah, kampus-kampus melakukan sosialisasi tanpa harus mengeluarkan anggaran” Tegas Kamaludin
Menyinggung terbukannya lowongan kerja secara besar-besaran di berbagai negara, Kamaludin menggugah BP3MI Sultra untuk mempersiapkan diri dengan peluang besar tersebut
“ Kita harus mempersiapkan para CPMI asal Sultra dengan akan di bukanya morotarium, Arab Saudi membutuhkan 150 ribu perawat, jangan sampai morotarium sudah di buka tetapi sultra belum siap. Yang kedua spanyol membutukan sekitar 6 ribu perawat, jadi bagaimana kita mempersiapkan para CPMI kita untuk mempersiapkan kompetensi, kemenkes sudah menginstruksikan untuk menggunakan fasilitas yang ada di kemenkes. Jangan sampai kita punya banyak job order tapi kita tidak bisa manfaatkan. Kita bangun komunikasi dengan pemprov, pemda dan pemkot agar informasinya tersebar” Tutup Kamaludin
Kegiatan pertemuan memberikan banyak informasi baru bagi BP3MI Sultra. Arahan dan petunjuk dari Stafsus KemenP2MI tentunya memberikan motivasi bagi tim BP3MI Sultra untuk lebih menyempurnakan pelayanan guna menyongsong terbukanya kesempatan kerja yang besar bagi Calon Pekerja Migran. (Humas BP3MI Sultra / Ery Wahyuni)